yuanayu.com

Hari Kusta Sedunia: Megenal Kusta dari Cermin Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK)

Posting Komentar

 

Talkshow "Tolak Stigmanya, Bukan Orangnya!"

Al Qadri tak pernah membayangkan, di usia belia sudah mendapatkan diskriminasi lantaran penyakit kusta. Ia bercerita, ia terdeteksi menderita kusta pada usia 6 tahun. Hal itu menyebabkan sekolah menolaknya untuk belajar lantaran banyak orang tua yang takut tertular.

“Akhirnya kepala sekolah meminta kepada orang tua saya tidak ke sekolah lagi dengan situasi tersebut. Tapi, bukan alasannya untuk itu, karena orang dulu takut sekali sampai harus mengatakan bahwa terkena penyakit  kusta. Bahwa saya belum cukup umur saya untuk saya bisa ikut bersekolah,” kata Al Qadri orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) dalam program 1minggu1ceritaxKBR talk show Tolak Stigmanya, Bukan Orangnya! pada live YouTube Berita KBR, Rabu, 26 Januari 2021.

Baca juga: Segernya Minum Dawet Telo Trawas

Selain itu, ia mengaku cukup kesulitan saat bergaul dengan teman-temannya sebaya di kampung. Lantara, banyak orang tua yang melarang anaknya bermain dengannya. Bahkan, ia mendapat perlakuan diskriminatif di dalam keluarga besarnya. 

“Itu sangat terasa sekali, sebenarnya sakit kusta tidak seberapa, tapi sakit diskriminasinya sangat-sangat terasa pembatasan saya untuk bergaul dengan siapa. Bukan hanya orang lain, tapi keluarga juga melakukan. Misalnya, kalau ada hajatan keluarga tentu saya harus sedikit dijauhkan dari kerumunan orang, karena kekhawatiran itu penyakit saya menular pada orang lain,” terang Wakil Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta Nasional itu.

Al Qadri mengaku, saat itu akses pengobatan terhadap kusta cukup sulit. Hal itu berakibat terhadap kerusakan organ yang dialaminya.

“Tahun 70-an masih sangat sulit mendapatkan obat. Orang tua saya mendatangi pusat layanan kesehatan, baik puskesmas, dokter, rumah sakit sampai pada tahun 1989 kondisi saya sudah sangat buruk. Apalagi, dimana-mana ada luka, tangan sudah kriting, jari-jari sudah ada yang puntung,” sebutnya.

Al Qadri mengungkapkan, saat ini stigma terhadap OYPMK tidak banyak berubah, seperti budaya masyarakat di daerah tertentu yang menggunakan penyakit kusta sebagai sumpah. Meski, saat ini akses kesehatan terhadap penyakit kusta cukup mudah. Bahkan, penyakit tersebut bisa dideteksi dan diobati sejak dini.

“Karena banyaknya aturan yang memasak menerima kami, banyaknya aturan yang memaksa tetap harus berinteraksi dengan kami. Itu barangkali yang membuat mereka mau berinteraksi dengan kami,” tutur Al Qadri.

“Akan tetapi, pemahaman meraka terkait dengan kusta itu masih sangat minim. Sehingga, dia tetap menstigma tetap dengan pemahaman yang tidak benar,” imbuhnya.

Baca juga: Kelor, Mistis Tapi Lezat? 

Al qadri berharap, masyarakat semakin paham dan teredukasi mengenai penyakit kusta dan OYPMK di era digital ini. Alasannya, agar tidak ada OYPMK yang menderita lantaran stigma tersebut.

“Menjadi harapan besar bagi saya bahwa dengan kegiatan-kegiatan (talk show) seperti ini dan jika memungkinkan lebih banyak media lagi dapat memberikan informasi, mengedukasi masyarakat terkait penyakit ini,” sebutnya.

Pixabay.com/PublicDomainPictures

Sementara, Technical Advisor NLR (Netherland Leprosy Relief) Indonesia dr. Astri Ferdiana mengatakan, stigma terhadap OYPMK cukup kompleks, lantaran bertahan bertahun-tahun lamanya di tengah masyarakat. Tentunya, untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan upaya yang komprehensif dan konsisten.

dr. Astri menyebut, pihaknya telah melakukan survei tahun 2020 pada sebuah daerah di Indonesia. Ia menemukan keanehan interaksi masyarakat hingga tenaga kesehatan (nakes) terhadap OYPMK.

“Mereka tidak mau berinteraksi dekat. Misalnya, memperkerjakan OYPMK, menikahkan anaknya dengan OYMK, tidak mau menerima OYPMK tinggal di rumahnya sebagai anak kos dan sebagainya,” jelasnya.

Ia menegaskan, menghindari OYPMK bukan cara yang tepat untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Melainkan, fisik dengan imunitas yang kuat mampu menangkal penularan itu. dr Astri menjelaskan, dari 100 orang dalam ruangan yang sama terkena bakteri kusta, kemungkinan besar yang benar-benar terpapar hanya 2 orang saja. Itu pun, jika kondisi mereka dengan imunitas yang buruk dan gizi yang kurang.

Sedangkan, orang yang telah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta tidak akan bisa menularkan kepada orang lain.

“Cara mencegah, tidak ada yang spesifik. Menghindari pasien atau orang yang pernah mengalami bukan cara yang benar,” ungkapnya.

Baca juga: Wisata Desa Taman Ghanjaran Trawas 

Pihaknya memaparkan, penyebaran informasi dan edukasi yang terhadap penyakit kusta dan OYPMK perlu digencarkan terus menerus secara kontinu. Terlebih, memberikan pemahaman bahwa semua manusia termasuk OYPMK memiliki hak dasar dan kesempatan yang sama. Seperti, hak akses kesehatan, pendidikan, fasilitas umum, hukum, politik mengeluarkan pendapat dan lainnya.

“Nah kalau itu kita sudah pahami, kita akan bisa melihat bahwa OYPMK punya hak yang sama dengan kita. Karena kita sama-sama manusia. Dia tidak berbeda dengan kita,” paparnya.

Ia menerangkan, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Beragam strategi telah dilakukan diantaranya, kampanye kesadaran melalui berbagai media, pelatihan, diskusi hingga advokasi.

“kami juga mentarget berbagai kelompok masyarakat tidak hanya nakes dan sektor kesehatan tapi juga linta sektor.  banyak di provinsi maupun kabupaten kita berusaha melakukan advokasi ke pimpinan daerah supaya memperhatikan kusta di daerahnya,” paparnya.

Pixabay.com/Anemone123

Terlebih, saat ini pengobatan terhadap penyakit tersebut cukup mudah diakses. Maka, dr. Astri meminta masyarakat lebih bijak terhadap OYPMK dan penyakit kusta dengan kesadaran sejak dini terhadap penyakit tersebut serta memberi dukungan maksimal terhadap penderitanya.

“Mendorong orang dengan tanda-tanda kusta untuk berobat sedini mungkin. Mendorong agar yang mengalami agar terus semangat jangka pengobatannya cukup lama. membutuhkan dorongan motivasi dari orang-orang terdekat,” jelasnya.

“Mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama bersama menuju dengan zero leprocy, zero disability dan zero exclusion. Sudah terlalu lama Indonesia bergelut dengan kusta. Sudah terlalu lama orang yang pernah mengalami kusta mengalami stigma dan diskriminasi dan ini sudah menuju tahun 2030 di mana sudah berkomitmen bahwa Indonesia sudah nihil penularan, nihil idsabilitas, nihil esklusi atau stigma dan diskriminasi,” pungkas dr. Astri.

yuana yuan
yuana yuan
Housewife, former journalist, content writer | blogger lifestyle -- Contact: yuana.27.a@gmail.com Instagram : @yuana.yuan

Related Posts

Posting Komentar